Wednesday, 28 December 2011

Barang BRANDED, haruskah ?


Saat ini telah menjamur mall elit di kota kota besar. Terlebih lagi di ibukota Jakarta. Lihat saja dari ujung selatan sampai utara Jakarta tersebar mall mall elit. Coba kita absen, dimulai dari  Senayan City, Plaza Senayan, Pacific Place, Grand Indonesia Shopping Town, Plaza Indonesia, Mall Taman Anggrek, Mall Ciputra, MoI (Mall of Indonesia), mall Artha Gading, dan Central Park. Tahukah anda 2 mall di Indonesia masuk dalam 30 mall terbesar di dunia. (penting ga sih ? Patutkah kita berbangga ?)

Mall mall elit tersebut berisi gerai-gerai retail dan restoran internasional. Sungguh pemandangan yang menabjubkan bagi sebagian orang. Bayangkan, penduduk Indonesia sekarang banyak disuguhi tempat tempat yang membuat mereka berkeinginan untuk berbelanja kapanpun. Brand brand fashion papan atas luar negri seperti Louis Vuitton (LV), Channel, Boss, Masimmo Dutti, Marc & Jacobs, Bullberry, Hermes, Guess, Gucci, Max Mara, Bally, Zara dll (masih banyak lagi kalo masih mau disebut) sudah bertengger manis di dalamnya. Menyajikan berbagai macam koleksi barang branded seperti tas, pakaian, sepatu, dompet, ikat pinggang, parfum dan sebagainya.

Dana yang kudu dikeluarkan untuk mendapatkan produk branded tersebut tentu saja tidaklah sedikit. Kisaran harganya dimulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah, bergantung model dan mereknya. Produk-produk impor ini selalu memiliki variasi, bentuk, model, dan warna menarik sesuai perkembangan tren fashion saat ini. Produk branded impor memang identik dengan kalangan yang memiliki penghasilan tinggi. Hal ini tentu saja karena harga yang dibandrol lumayan menguras kantong. Selain pria & wanita karier, para pengusaha menjadikan produk branded ini sebagai tren tersendiri. Bagaimana tidak, untuk mendapatkan 1 piece produk branded, setidaknya Anda harus mengeluarkan uang di atas 1 juta rupiah. Produk branded impor memang seolah memberikan kepuasan tersendiri bagi pemakainya. Pemakai tampak memiliki kekuatan visual yang mampu mempengaruhi penampilannya. Namun, memilih produk produk impor ini perlu berhati-hati. Terutama, bila Anda termasuk "pendatang baru".



Sebenarnya tidak salah bagi orang orang yang berbelanja di branded retail seperti itu. Tapi mungkin tidak untuk saya yang harus berpikir 2 kali untukuk membeli produk tersebut. Teman saya, sebut saja Icang. Seorang Head of Marcomm di perusahaan handphone China dengan usia yang cukup matang. Tinggal di apartemen yang cukup mewah di Jakarta Barat. Entah sudah tak terhitung jumlah uang yang dikeluarkannya untuk membeli barang barang lux. Mungkin hal ini bukan masalah yang pelik jika dibandingkan dengan penghasilan yang ia terima dari tempatnya bekerja. Pria fashionable ini menggemari Louis Vuitton, salah satu top brand dunia untuk fashion pria dan wanita. Sebut saja tas LV Damier Tadao-nya yang berharga 18 jutaan. What ? 18 jutaan untuk sebuah tas ? Can you imagine…. Belum untuk dompet, sepatu, ikat pinggang, hand bag. Ckckckc…

Produk branded memang memiliki nilai lain selain tentu saja kualitas dan harga yang luar biasa. Adalah sebuah gengsi dan simbol kelas sosial yang tidak bisa ditawar. Bahwa mereka yang menggunakan produk branded adalah mereka yang uangnya berlimpah dan mungkin bingung akan digunakan untuk apa. Tas misalnya, jika dilihat fungsinya, tas dengan label branded ataupun nonbranded memiliki fungsi yang sama, yaitu untuk membawa sesuatu, menempatkan  benda-benda yang perlu dibawa agar tidak tercecer kemana-mana. Mahalnya harga produk branded tidak lantas mengubah fungsi dari produk itu sendiri, bukan ?

Sekarang terserah kita, karena kita yang tahu penghasilan kita  dan alokasinya. Jadi ingat dengan pelajaran SD dulu, kita sebagai manusia punya kebutuhan primer, skunder, dan tersier. Setiap terima gaji, langsung bikin financial plan. Abis terima gaji bulan ini, langsung sisihkan di pos tabungan-mau nabung berapa, makan & transport, cicilan kartu kredit, … baru kalo masih ada sisa buka Dream List. Dream List, itu adalah istilah yang saya pakai untuk daftar item tersier yang jadi keinginan selama ini. Bisa branded item, membership, estetika, fashion :D etc.






1 comment:

  1. Nice posting, 'na. Here are my suggestions despite the organizing of the essay.
    1. Tanda baca diletakkan tanpa spasi.
    2. Baca balik & edit kalau ada kesalahan ejaan. Sabar.
    3. Cantumkan dari mana dapat sumber gambar2 di atas karena itu bukan dari hape jepret sendiri kan? Juga sertakan keterangan di bawah foto supaya orang awam tau apa itu.
    5. State which side are you on? Pro or con?
    6. Perhatikan komposisi. Gambar sebaiknya besar, sedang atau kecil & disesuaikan dengan lay out tulisan. Ati2 jangan sampai nabrak tulisan. Ada tuh di paragraf 4.
    Rasanya itu deh. Kalau ada lagi aku susulkan. Proud of you that you now like writing!

    ReplyDelete